English | Bahasa Indonesia

webmail | sitemap 

content news
PUBLICATION


























Publication

JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN INDONESIA NO.3 MEI - JUNI 2012

Identifikasi Berbagai Faktor Pemicu Orientasi Kewirausahaan
(Studi Pada Para Pengusaha di Empat Kota di Jawa Timur)

Agus Prianto

ABSTRACT
Until right now, Indonesia still faces very serious labor problems. Availability of job is not comparable with the development of the workforce. As a result, open unemployment in Indonesia is still very high. High unemployment in a country reflects the low number of entrepreneurs. In this regard it is necessary to attempt the development of entrepreneurship among citizens. In order to strengthen the entrepreneurship movement in society, we can dig up information from the entrepreneurs related to any factors that enable them to develop entrepreneurial orientation. This issue is to be assessed in this study. The results of this study are expected to be used as a foundation in the development of entrepreneurial culture in the community, particularly through education. This research was conducted on the entrepreneurs in four cities in East Java: Surabaya, Malang, Lamongan, and Jombang, by the number of respondents as much as 182 entrepreneurs. Data from respondents with regard to many factors that encourage the entrepreneurial orientation further assessed by univariate analysis. The results of data analysis found that family support and community and entrepreneurship education are the two main factors that influence the growth of an entrepreneurial orientation. The study also found that the level of formal education the respondents have a significant impact on the growth of an entrepreneurial orientation. In contrast to previous research studies, this research proves that women’s entrepreneurial orientation is stronger than men. Based on the conclusions of this study, it is suggested that entrepreneurship education can be applied extensively in various types and levels of education, whether formal, non formal and informal education both at primary, secondary, and higher education.

KEY WORDS: Entrepreneurship, entrepreneurial orientation, entrepreneurship education, government policy

ABSTRAK
Sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi masalah tenaga kerja yang sangat serius. Ketersediaan pekerjaan tidak sebanding dengan perkembangan angkatan kerja. Akibatnya, pengangguran terbuka di Indonesia masih sangat tinggi. Pengangguran yang tinggi di suatu negara mencerminkan rendahnya jumlah pengusaha. Dalam hal ini perlu untuk mencoba pengembangan kewirausahaan di kalangan warga negara. Dalam rangka memperkuat gerakan kewirausahaan di masyarakat, kita dapat menggali informasi dari pengusaha terkait dengan faktor-faktor yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan orientasi kewirausahaan. Masalah ini akan dilihat dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengembangan budaya kewirausahaan di masyarakat, terutama melalui pendidikan. Penelitian ini dilakukan pada pengusaha di empat kota di Jawa Timur: Surabaya, Malang, Lamongan, dan Jombang, dengan jumlah responden sebanyak 182 pengusaha. Data dari responden mengenai faktor yang mendorong orientasi kewirausahaan lebih lanjut dinilai dengan analisis univariat. Hasil analisis data ditemukan bahwa dukungan keluarga dan masyarakat dan pendidikan kewirausahaan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan orientasi kewirausahaan. Studi ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan formal responden memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan orientasi kewirausahaan. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini membuktikan bahwa orientasi kewirausahaan perempuan lebih kuat daripada pria. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, disarankan bahwa pendidikan kewirausahaan dapat diterapkan secara luas dalam berbagai jenis dan jenjang pendidikan, baik formal, pendidikan non formal dan informal, baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi.

KATA KUNCI: Kewirausahaan, orientasi kewirausahaan, pendidikan kewirausahaan, kebijakan pemerintah


Analisis Pengaruh Service Quality, Perceived Value, Satisfaction, dan Involvement terhadap Behavioral Intentions Penumpang
Studi Kasus: Transjakarta Busway
Reni Wahyuni & Sumiyarto

ABSTRACT
Angkutan umum merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Karena itu perlu ada upaya untuk meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum. Kehadiran Transjakarta adalah sebuah terobosan untuk menarik minat masyarakat menggunakan angkutan umum di Jakarta, khususnya pengguna kendaraan pribadi. Penelitian ini membahas tentang keterkaitan antara kualitas pelayanan, nilai yang dirasakan, kepuasan, dan keterlibatan dalam memengaruhi niat berperilaku penumpang Transjakarta. Model penelitian yang digunakan merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Lai dan Chen (2011) dengan judul “Behavioral intentions of public transit passengers — The roles of service quality, perceived value, satisfaction and involvement”. Penelitian dilakukan terhadap 220 penumpang Transjakarta yang diambil dari 10 halte, masing-masing 1 halte per rute perjalanan bus pada November-Desember 2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non-probability sampling. Secara keseluruhan, penumpang Transjakarta tidak merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan serta kinerja dari Transjakarta. Walaupun demikian, keterlibatan penumpang Transjakarta dan niat berperilaku penumpang untuk terus menggunakan Transjakarta tetap tinggi. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain harga tiket yang terjangkau, jarak tempuh atau rute yang disediakan, rasa aman ketika menunggu bus, dan tidak ada transportasi umum lain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas layanan mempunyai pengaruh positif terhadap niat berperilaku dan kepuasan penumpang, tetapi kualitas layanan berhubungan negatif terhadap keterlibatan dan niat berperilaku penumpang Transjakarta. Hubungan antara nilai yang dirasakan, kepuasan, keterlibatan, dan niat berperilaku adalah positif. Walaupun Transjakarta adalah usaha yang dikelola oleh Pemda DKI Jakarta, tetapi kualitas layanan tetap menjadi penting, karena Transjakarta adalah jasa pelayanan umum. Hasil penelitian ini menyarankan agar manajemen Transjakarta memperbaiki layanan yang diberikan kepada penumpang.

KEYWORDS: Kualitas layanan, niat yang dirasakan, kepuasan, niat berperilaku.Information Content

ABSTRAK
Public transportation is one alternative to address traffic congestion in Jakarta. So it needs effort to increase public interest to use public transport. Transjakarta presence is a breakthrough to attract people to use public transport in Jakarta, especially users of private vehicles. This thesis studies about the relationship between service quality, perceived value, satisfaction, and involvement toward behavioral intentions of the Transjakarta passengers. The research model that used in this studies is a replication of the study conducted by Lai and Chen (2011) entitled “Behavioral Intentions of Public Transit Passengers - The Roles of Service Quality, Perceived Value, Satisfaction and Involvement”. Research conducted on 220 passengers of Transjakarta taken from 10 shelters, each one shelterfor each route from Novembre to Decembre, 2011. Sampling was carried out by non-probability sampling methods. Overall, the passengers are not satisfied with the service provided and the performance of Transjakarta. However, the involvement and behavioral intentions of Transjakarta passengers to continue using Transjakarta remains high. This is due to several factors, among others, at an affordable ticket price, mileage or routes are provided, a sense of security while waiting for the bus, and no other public transport.

The result of the research also shows that service quality has positive relationship with perceived value and satisfaction, and negative relationship with involvement and behavioral intentions. The relationship between perceived value, satisfaction, involvement, and behavioral intentions are positive. Although Transjakarta is a business run by local governments, but service quality is the most important, because Transjakarta is public service. This thesis suggests that management must improve their service to passengers.

KATA KUNCI : Service quality, perceived value, satisfaction, behavioral intentions.



Studi Komperatif Kandungan Informasi Economic Value Added (EVA), Operating Profit (OP) dan Net Income (NI) terhadap Market Value Added (MVA)
Yusbardini

ABSTRACT
Any company trying to increase its value. The company’s value can be determined by measuring the performance of the company. One of the processes undertaken to measure the performance of the company is to do a financial analysis. There are two types of assessment models to measure the creation of shareholder value, both of them become a reference of financial practitioners, the accounting model and discounting model. Development of Discounted Cash Flow Model generating Economic Value Added (EVA) and Market Value Added (MVA). Purpose of this study was to determine the information content of EVA, OP (Operating Profit), NI (Net Income) and to know the information content of EVA, OP and NI in connecting with the market value (market value added). The study was conducted in Bursa effek Indonesia, Jakarta and the population in this study is a consumer goods industry in Indonesia Stock Exchange Effects in the period 2000 to 2003. The best test to contant information into two kinds of information are: realative incremental information content and information content. The first is the relative information content of EVA, OP and NI to the MVA.

The second is the incremental information content of EVA, OP and NI to the MVA. Methods used to see contributions of each variable on to the MVA uses EVIEWS and to determine the effect of all variables simultaneously to the MVA. Results of testing hypothesis 1 is the relative information content of EVA over the OP and NI in explaining the change in MVA. But by the second hypothesis does not exceed the incremental EVA, OP and NI in explaining variations in MVA. Results are consistent with the results of Peixoto (2002) and Kurniady (2003) which states that EVA can explain the variation of MVA.

KEYWORDS: EVA, Net Income, Operating Profit, MVA, Incremental and Realitve

ABSTRAK
Setiap perusahaan berusaha meningkatkan nilainya. Nilai perusahaan dapat diketahui dengan mengukur kinerja perusahaan. Salah satu proses yang dilakukan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah dengan melakukan analisis keuangan. Ada dua macam model penilaian untuk mengukur the creation of shareholder value, yang masing-masing menjadi acuan para praktisi keuangan yaitu accounting model dan discounting model. Pengembangan dari discounted Cash Flow Model menghasilkan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui information content dari EVA, OP (Operating Profit), dan NI (Net Income) dan untuk mengetahui information content dari EVA, OP dan NI dihubungkan dengan nilai tambah pasar (market value added). Penelitian dilakukan di Bursa effek Indonesia, Jakarta dan populasi pada penelitian ini merupakan perusahaan industri barang konsumsi (customers googs industry) di Bursa Effek Indonesia pada periode 2000 – 2003. Test terhadap information contant terbaik menjadi dua macam informasi yaitu: relative information content dan incremental information content. Pertama adalah relative information content dari EVA, OP dan NI terhadap MVA. Kedua adalah incremental information content dari EVA, OP dan NI terhadap MVA. Metode yang digunakan untuk melihat kontribusi masing masing variabel di atas terhadap MVA menggunakan Eviews dan untuk mengetahui pengaruh semua variabel secara simultan terhadap MVA. Hasil pengujian hipotesis 1 secara relatif information content EVA melebihi OP dan NI dalam menjelaskan perubahan MVA. Tetapi pada hipotesis 2 secara incremental EVA tidak melebihi OP dan NI dalam menjelaskan variasi MVA. hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Kurniady (2003) dan Peixoto (2002) yang menyatakan bahwa EVA dapat menjelaskan variasi dari MVA.

KATA KUNCI : EVA, Net Income, Operating Profit, MVA, Relative dan Incemental Information content


Business Climate Survey 2010: Mengukur Peringkat Daya Saing Daerah Kalimantan Barat
Memet Agustiar

ABSTRACT
West Kalimantan (Kalbar) need a bigger leap to be more advanced, so that regional policy is needed that is able to encourage the competitiveness of West Kalimantan. One initial step is to create a conducive business climate. For that we need to do research on the business climate of West Kalimantan. This study aims to measure the competitiveness of the region of West Kalimantan in 2010, especially on competitiveness ranking counties and cities and their performance on each sub-index, and then analyze the relationship between the total index of the sub-index and between the sub-index. Research conducted on 798 respondents from the company and 42 respondents representing the officials. Data analysis was done by creating a composite index of competitiveness that are designed based on the approach that had been done by GIZ to the same survey in Central Java and in Vietnam. This survey bring into 14 districts and cities in West Kalimantan. There are six sub-indices are used in this study, e.i: (1) economic performance, (2) the investment performance, (3) the performance of government, (4) the dynamics of business, (5) perception of the business environment, and (6) infrastructure. There are two sub-indices that were given higher scores than the others, namely the performance of investment and government performance.

The results of this survey have been placed Kabupaten Sintang successfully obtained the first rank in overall index. The champions in each sub-index varies in each region. Competitiveness of West Kalimantan province is moving from the lowest value (3.75) and highest (5.78), with a median of 4.89. This shows the power of the competitiveness of West Kalimantan are still below the average. For policy considerations, the government and other development actors should seek to continue to boost regional competitiveness through improving the quality of public services and strengthening local infrastructures.

KEY WORDS: Business climate, regional competitiveness, investment performance, West Kalimantan.

ABSTRAK
Kalimantan Barat (Kalbar) perlu lompatan yang lebih besar agar bisa lebih maju, sehinga diperlukan kebijakan regional yang mampu medorong daya saing Kalbar. Salah satu langkah awal adalah dengan menciptakan iklim berusaha yang kondusif. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang iklim usaha Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur daya saing daerah Kalimantan Barat tahun 2010 khususnya tentang peringkat daya saing kabupaten dan kota beserta kinerja pada masing-masing sub-indek, kemudian menganalisis keterkaitan antar total indek dengan sub-indek dan antar subindek.

Penelitian dilakukan terhadap 798 responden mewakili perusahaan dan 42 responden pejabat pemerintah. Analisis data dilakukan dengan membuat indek komposit daya saing daerah yang dirangcang berdasarkan pendekatan yang pernah di lakukan oleh GIZ untuk survey yang sama di Jawa Tengah dan di Vietnam. Survei ini mencakup 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Ada enam sub-indeks yang digunakan dalam penelitian ini, ei: (1) kinerja ekonomi, (2) kinerja investasi, (3) kinerja pemerintah, (4) dinamika bisnis, (5) persepsi bisnis lingkungan, dan (6) infrastruktur. Ada dua subindeks yang diberi skor yang lebih tinggi dari yang lain, yaitu kinerja investasi dan kinerja pemerintah. Hasil survei ini menempatkan Kabupaten Sintang pada peringkat pertama dalam indeks secara keseluruhan. Juara di setiap sub-indeks bervariasi di setiap daerah. Daya Saing Kalimantan Barat bergerak dari nilai terendah (3,75) dan tertinggi (5,78), dengan rata-rata 4,89. Ini menunjukkan kekuatan daya saing Kalimantan Barat masih di bawah rata-rata. Untuk pertimbangan kebijakan, pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya harus berusaha untuk terus meningkatkan daya saing daerah melalui peningkatan kualitas pelayanan publik dan penguatan infrastruktur lokal.

Kata Kunci: Iklim usaha, daya saing regional, kinerja investasi, Kalimantan Barat.



Peran Pengembangan Pemasaran Stratejik dalam Bisnis dan Korporasi
Sofjan Assauri

ABSTRACT
The marketing function at this point is a key process of the overall business enterprise or business unit. In this case marketing includes the whole activities of a company that aims to provide superior value to customers. This is where the need for an understanding of strategic marketing. Marketing activities and actions should be linked, integrated and is one unit of efforts for the achievement of goals and objectives, especially marketing and generally the corporate purposes. Strategic marketing emphasis on systematic and sustained direction and analyzing so that the company can provide satisfactory services more effectively than competitors. The main purpose of strategic marketing is to create long-term relationship of mutual benefit between the company and its customers through the creation of sustainable customers' value for the long-term. Strategic marketing is directed by top management, as strategic marketing should be in line with corporate strategy. While the operational marketing activities include the organization of distribution, sales and communication to inform potential buyers, as well as improve the quality of the product distinctive. Thus the company is able to satisfy customers with the most effective way. Strategic marketing is basically a process of complex and interrelated, from the formulation of the company's business, mission and goals, then make the identification and development framework of corporate growth opportunities, and continued with the formulation of marketing strategies. Strategic marketing and operational marketing are interrelated in the sense that the operational marketing activities run by the strategic decisions in strategic marketing. Instead, operational marketing is the basic considerations and the basic of analysis in the preparation of strategic marketing decisions. Formulation of strategic marketing basically emphasizes the sovereignty of the customer. Therefore, successful companies must implement the ideal markat-driven management in designing and running a business and marketing strategies.

KEY WORDS: Strategic marketing, operational marketing, competitive strategy, market-driven.

ABSTRAK
Fungsi pemasaran pada saat ini merupakan proses kunci keseluruhan bisnis dari organisasi perusahaan atau unit bisnis. Dalam hal ini pemasaran mencakup keseluruhan tindakan perusahaan yang bertujuan memberikan superior value pada pelanggannya. Di sinilah perlu adanya pemahaman tentang pemasaran stratejik. Kegiatan dan tindakan pemasaran harus saling terkait, terintegrasi dan merupakan satu kesatuan upaya bagi pencapaian tujuan dan sasaran pemasaran khususnya dan tujuan perusahaan pada umumnya. Pemasaran stratejik menekankan pada pengarahan dan penganalisisan yang sistematis dan berkelanjutan agar perusahaan dapat memberikan pelayanan yang memuaskan secara efektif dibandingkan dengan pesaing. Tujuan utama pemasaran stratejik adalah menciptakan hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan antara perusahaan dan pelanggannya melalui penciptaan nilai pelanggan jangka panjang yang berkelanjutan. Pemasaran stratejik diarahkan oleh pimpinan puncak, karena pemasaran stratejik harus sejalan dengan strategi korporasi. Sedangkan pemasaran operasional mencakup pengorganisasian kegiatan distribusi, penjualan dan komunikasi untuk menginformasikan kepada pembeli potensial, serta meningkatkan kualitas distingtif produk. Dengan demikian perusahaan mampu memuaskan pelanggan dengan cara yang paling efektif. Pemasaran stratejik pada dasarnya merupakan proses yang kompleks dan saling terkait, mulai dari perumusan bisnis perusahaan, misi dan sasarannya, kemudian melakukan pengidentifikasian dan pembangunan kerangka pertumbuhan peluang perusahaan, dan dilanjutkan dengan perumusan strategi pemasaran. Pemasaran stratejik dan pemasaran operasional saling terkait dalam pengertian bahwa pemasaran operasional menjalankan kegiatan berdasarkan keputusan stratejik dalam pemasaran stratejik. Sebaliknya, pemasaran operasional menjadi dasar pertimbangan dan dasar analisis dalam penyusunan keputusan pemasaran stratejik. Perumusan pemasaran stratejik pada dasarnya menekankan kedaulatan pelanggan. Karena itu, perusahaan yang sukses harus menerapkan manajemen dorongan pasar (markatdriven management) yang ideal dalam merancang dan menjalankan bisnis dan strategi pemasaran.

KATA KUNCI: Pemasaran stratejik, pemasaran operasional, strategi bersaing, dorongan pasar.



***


Home  | Contact  |  Sitemap


2008 Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia