English | Bahasa Indonesia

webmail | sitemap 

content news
PUBLICATION


























Publication

JURNAL MANAJEMEN USAHAWAN INDONESIA NO.1 JANUARI - FEBRUARI 2012

Analisis Pengaruh Brand Identity Design
Terhadap Proses Pembentukan Brand
Awareness
Studi Kasus: Nordhenbasic

Khairunnas*
Sofjan Assauri**

ABSTRACT

This thesis tries to discuss about how to build a brand in a new business that usually takes time. A new business usually faces a dilemma, which is to develop their brand identity, expansion which means opening more outlets, or developing a new product. Brand identitycan be built by creating logo, slogan language, product or services that are offered, uniform, etc. Based on the research on Nordhenbasic, the influences of brand identity design on the process of creating brand awareness are good enough,
although there are still got a lot of minuses that should be fixed.
 
KEYWORDS: Brand, brand identity, brand awareness, brand equity.

ABSTRAK

Tesis ini membahas tentang membangun suatu merek pada bisnis baru yang membutuhkan waktu cukup lama, dan biasanya bisnis baru tersebut selalu menghadapi dilema apakah ingin mengembangkan identitas merek mereka, ekspansi atau membuka cabang lebih banyak dan mengembangkan produk baru. Membangun suatu identitas merek bisa dilakukan dengan membuat logo, slogan, baahsa yang digunakan, produk atau jasa yang ditawarkan, seragam perusahaan, dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian pada Nordhenbasic, pengaruh brand identity design terhadap proses pembentukan brand
awareness cukup baik walaupun masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

KATA KUNCI: Merek, identitas merek, kesadaran merek, ekuitas merek.

 

Customer Relationship (Hubungan
Konsumen) Mempengaruhi Loyalitas
Pelanggan IM3, THREE, ESIA, dan
FLEXI

Ignatius Heruwasto,*
Ratna Nur Fatmah**

ABSTRAK

Penelitian ini menggabungkan dua konsep penting yaitu customer relationship (hubungan konsumen) dan loyalitas konsumen. Penelitian ini menfokuskan pada proses customer relationship pada provider selular IM3, Three, Esia, dan Flexi yang merupakan provider selular yang memiliki produk keunggulan. Namun provider selular IM3, Three, Esia, dan Flexi juga memiliki banyak kompetitor yang siap bersaing untuk merebut para konsumen. Alasan yang mendasari topik penelitian ini adalah bahwa setiap provider selular dalam mempertahankan konsumen atau pelanggannya, harus memiliki hubungan yang baik dengan para pelanggan atau konsumen sehingga dapat meningkatkan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh customer relationship (hubungan konsumen) terhadap loyalitas pelanggan pada provider selular yang akan dikembangkan menjadi strategi pemasaran. Khususnya penelitian ini mengkaji tentang hubungan konsumen dengan produk, hubungan konsumen dengan merek, dan hubungan konsumen dengan konsumen. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat kaitan ketiga pihak hubungan konsumen tersebut terhadap loyalitas pelanggan yang terdiri dari individual fortitude dan social bonding. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa dan mahasiswi Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta yang menggunakan provider selular IM3, Three, Esia, dan Flexi dengan jumlah responden yang digunakan dalam sampel penelitian ini sebanyak 100 responden. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai dengan jenis penelitian deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa customer relationship mempunyai pengaruh positif terhadap individual fortitude, relationship customer dan konsumen mempunyai pengaruh positif terhadap social bonding, dan customer relationship juga
mempunyai pengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan IM3, Three, Esia, dan Flexi.

KATA KUNCI: hubungan konsumen, loyalitas pelanggan

ABSTRACT

This research combined two important concepts in marketing, namely customer relationship and consumer loyalty. This research focused on the process of customer relationship in cellular provider especially IM3, Three, Esia, and Flexi, the most popular in cellular market. These providers offered more product advantage than the competitors. However, the cellular provider IM3, Esia, Three, and Flexi also has many competitors who are ready to compete to acquire the consumers. In this high market competition, the provider tends to keep up the customer by developing the good customer relationship in order to maintain and promote customer loyalty. The purpose of this research is to recognize the influence of customer relationship designed by cellular provider on customer loyalty that would be developed into a marketing strategy. Particularly, this research studied the linkage between customer relationship and product, customer relationship and brand, consumer relationship and customer. Furthermore, the research supposes to recognize the influence of the three party customer relationship linkages on the customer loyalty especially in term of individual fortitude and social bonding. The population of the research is the students of Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik Jakarta as customer of IM3, Three, Esia, dan Flexi provider. Survey was conducted on 100 students as respondents. Research methods used in this study is a survey with types of descriptive research and quantitative approach. The
result showed that customer relationship has positive influence on individual fortitude; customer relationship has positive influence on social bonding; and customer relationship has positive influence on customer loyalty of the three cellular providers (IM3, Three, Esia, dan Flexi).

KEYWORDS: Customer relationship, customer loyalty, brand, customer oriented

 

 

Penaksiran Resiko Supply chain di
Industri Perminyakan

Iwan Vanany*

ABSTRACT

Risk issue in supply chain is one of importance issues in Oil and Gas companies. The objectives of this paper are: (1) identifying supply chain risk sources and (2) assessing supply chain risk sources based on probability and impact each supply chain risk sources in Oil Company. Brainstorming and discussions with some managers in one of Oil Company in Riau were conducted to identify and assess supply chain risk sources. We founded some supply chain risk sources in three categories such as (1) 8 types in
external risk, (2) 8 types in network risk, and 11 types in internal risk. The results of assessments indicate that the critical supply chain risk sources in external risk are government regulations and infrastructure failure. The critical supply chain risk sources in network risk are unavailable components and transportation accidents to customers. In internal risks are equipments failures and internal transport failures. Henceforth, appropriate action strategies are needed to reduce and mitigate critical supply chain risk sources in order to increase supply chain operations in company.

KEY WORDS: risks, supply chain, mapping, oil industry


ABSTRAK

Isu resiko pada supply chain merupakan salah satu isu penting di dunia industri perminyakan. Tujuan dari paper ini adalah: (1) mengidentifikasi sumber-sumber resiko supply chain dan (2) menaksir sumber-sumber resiko tersebut berdasarkan tingkat kemungkinannya terjadi dan besar dampaknya yang ditimbulkan. Branstorming dan diskusi oleh beberapa manajer dan karyawan di sebuah perusahaan industri perminyakan di Riau dilakukan untuk pengidentifikasian dan penaksiran sumbersumber resiko supply chain-nya. Pada paper ini, sumber-sumber resiko supply chain pada industri perminyakan dapat dibagi menjadi tiga katagori yaitu (1) external risk (ada 8 sumber-sumber resiko), (2) network risk (8 sumber-sumber resiko) dan internal risk (11 sumber-sumber resiko). Hasil penaksiran menunjukkan bahwa sumber-sumber resiko yang kritis di external risk adalah: perubahan regulasi dan kerusakan infrastruktur merupakan, di network risk adalah: tidak adanya ketersediaan komponen dan kecelakaan transportasi untuk konsumen. Sedangkan internal risk adalah: kerusakan alat pengeboran dan adanya gangguan pada internal transportasi. Kedepannya perlu dilakukan strategi aksi yang dipilih agar sumber-sumber resiko yang kritis dapat diantisipasi, direduksi dan dimitigasi untuk meningkatkan operasi supply chain perusahaan.

Kata kunci: resiko, supply chain, dan pemetaan

 

 

Pengaruh Kualitas Aset Digital (Website)
Terhadap Kepuasan, Kepercayaan, dan
Hubungan

Sri Raharso*

ABSTRACT

Website is increasingly being viewed as a tool and place to enhance relationship. In university, website has emerged as the primary vehicle for inter and intra-organizational information exchange. Previous studies have done a lot to identify the website quality that influence satisfaction, trust, and relationship. Unhappily, research in the field of university website still very rare. In consequence, this research tries to identify variables that make up quality in university website and consequence to satisfaction, trust, and relationship with user website. Our result show that webstite quality has significant effect on consumers’ trust and satisfaction, both of which lead to relationship. The implication and limitation of the result are discussed.

KEY WORDS: website quality, trust, satisfaction, relationship


ABSTRAK

Pada saat ini, website merupakan salah satu alat yang diadopsi organisasi untuk menciptakan hubungan. Perguruan tinggi termasuk salah satu organisasi yang memanfaatkan potensi website sebagai alat pertukaran informasi antar dan di dalam organisasi. Hasil studi menyatakan bahwa website yang berkualitas terbukti bisa meningkatkan kepuasan, kepercayaan, dan hubungan. Sayangnya, penelitian tentang kualitas website perguruan tinggi masih sangat jarang. Untuk itu, penelitian ini berusaha mengisi kesenjangan tersebut dengan cara mengidentifikasi variabel-variabel yang bisa menjelaskan kualitas website perguruan tinggi dan konsekuensinya. Hasilnya, secara empiris terbukti bahwa kualitas website perguruan tinggi mempengaruhi kepuasan, kepercayaan, dan hubungan dengan pengguna website. Implikasi dan keterbatasan penelitian ini juga didiskusikan.

KATA KUNCI: kualitas website, kepuasan, kepercayaan, hubungan.

 

The Impact of Macroeconomic News to
Islamic Bond in Indonesia

Permata Wulandari*
Niken Iwani**
Anis Wahyu Intan Maris***

ABSTRAK

Riset ini berfokus pada dampak pengumuman variabel makroekonomi terhadap obligasi syariah negara di Indonesia sepanjang tahun 2009-2010. Dampak pengumuman GDP, inflasi, nilai tukar dan uang beredar terhadap volatilitas yield obligasi syariah negara akan diukur dengan memperhatikan asymetric effect volatilitas obligasi syariah terhadap volatilitas variabel makroekonomi. Data yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah variabel makroekonomi serta yield obligasi syariah di Indonesia (baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh korporasi) yang terbagi atas kelas jatuh tempo yang berbeda (4, 6, 7 dan 10 tahun). Bivariate GJR GARCH (TARCH) digunakan sebagai metodologi pada penelitian ini serta Variance Autoregresion (VAR). Pearson correlation juga digunakan untuk menganalisis korelasi antara variabel dan Granger Causality. Korelasi pearson juga mengimplikasikan korelasi yang kuat antara variabel makroekonomi dan yield sukuk pada setiap tenor di tingkat imbal hasil tertentu dengan GDP dan inflasi sebagai variabel yang paling kuat berkorelasi dengan yield sukuk. Hasil ini didukung sebagaimana Granger causality menunjukan adanya hubungan antara GDP dengan inflasi terhadap yield sukuk. Hasil dari VAR menunjukan bahwa hanya nilai tukar yang mempengaruhi volatilitas yield sukuk. GJR GARCH kemudian mengungkapkan bahwa satu asymmetric effect terjadi pada kelas tenor 7 tahun.

KATA KUNCI: Macroeconomic variables, Sukuk, asymetric effect


ABSTRACT

This research focuses on the impact of news of macroeconomic variables to sharia bond (Sukuk) in Indonesia along 2009-2010. The impact of news on GDP, inflation, foreign exchange, and money supply to the volatility of sharia’s bond yield in Indonesia will be measured by taking into account the asymetric effect in volatility of sharia bond yield due to the volatility of macroeconomic variables. The data applied in this paper is macroeconomic variables and Sharia bond in Indonesia (both issued by the government and corporate entities) are divided into different class of maturity (4, 6, 7, and 10 year). Bivariate GJR GARCH (TARCH) is employed in this research as well as Variance Autoregresion (VAR). Pearson correlation is used to analyze the correlation between variables, and Granger Causality is employed to capture the shocks on Sharia bond yield’s volatility. The Pearson correlation implied a strong correlation between macroeconomic variables and sukuk yield in almost every maturity class in the return level with GDP and inflation as the strongest variable correlating with sukuk yield. This result is supported as the Granger cause shows that GDP and inflation are Granger causality with sukuk yield. The outcome of the VAR shows that only foreign exchange that affecting sukuk yield volatility. GJR GARCH then reveals one asymmetric effect occurs, in the class of 7 years of maturity.

KEYWORDS: Macroeconomic variables, Sukuk, asymetric effect

Upaya Pengembangan Kualitas
Produk Jamu Gendong di Daerah
Serpong Tangerang

Rodhiah*

ABSTRACT

Current research about the effort to improve ‘jamu gendong’ product quality in Serpong Tangerang aimed to know the consumers’ most important needs in selecting the ‘jamu gendong’ products, the consumers’ level of satisfaction of ‘jamu gendong’ products, and technical importance of consumers by ‘jamu gendong’ development. Participants were 100 ‘jamu’ customers and 20 ‘jamu’ sellers at Desa Raw Mekar Jaya Serpong Tangerang. Quality Function development method was used to analyze the data. Findings indicate that some important criteria for the consumer were variations product, no dangerous substance, long lasting, fast service, friendly sellers, glass cleanliness and good overal quality. The study also found that consumers satisfaction were friendly sellers, fast service, glass cleanliness, long lasting, unique smell, and good over all quality. Research also found that technical characteristics should be developed to improve the quality of products were composition, appropriate mixture, cleanliness, duration, manufacture method, skills and standard quality. The findings provided recommendation for the ‘jamu gendong’ developers to increase the customer satisfaction.

KEY WORDS: Product quality, technical importance, satisfaction, quality function development


ABSTRAK

Penelitian mengenai upaya pengembangn kualitas produk jamu gendong di daerah Serpong Tangerang ini bertujuan untuk mengetahui hal yang dipentingkan oleh konsumen dalam memilih produk jamu gendong, mengetahui tingkat kepuasan konsumen terhadap produk jamu gendong dan kepentingan teknik yang menjadi prioritas pengembangan jamu gendong menurut konsumen. Dilakukan pengambilan sampel sebanyak 100 pelanggan jamu dan 20 penjual yang tersebar di beberapa lokasi desa Rawa Mekar Jaya Serpong Tangerang. Metode Quality Function Deployment digunakan untuk menganalisis data.Temuan menunjukkan bahwa hal yang dipentingkan konsumen terhadap jamu adalah Jenis jamu bervariasi, tidak ada kandungan bahan yang berbahaya, tidak cepat basi, cepat dalam melayani, penjual ramah, kebersihan gelas dan secara keseluruhan kualitas jamu baik. Penelitian juga menemukan konsumen merasa puas berdasarkan pada: Penjual ramah, cepat dalam melayani, kebersihan gelas,tidak cepat basi, aroma khas, secara keseluruhan kualitas jamu baik. Dan juga menemukan karakteristik teknik sesuai kebutuhan yang harus dikembangkan dan diperbaiki kualitasnya adalah: komposisi, kecocokan campuran, kebersihan, ketahanan, cara pengolahan, keterampilan dan standarisasi kualitas. Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi para pengembang jamu gendong agar meningkatkan kepuasan konsumen.

KATA KUNCI: kualitas produk, kepentingan teknis, kepuasan, QFD

 

Reforming Bureaucray, a Passing Fad?
Antonius Tarigan*

ABSTRAK

Semua negara dewasa ini didesak untuk melakukan reformasi birokrasi seiring dengan gagasan Reinventing Government yang dilontarkan David Osborne dan Ted Gaebler (1992). Pertanyaan mendasar, kontekstual dan memiliki tingkat urgensi tinggi adalah, masihkah relevan reformasi birokrasi dilakukan? Relevansinya: Pertama, birokrasi dapat diandaikan seperti dua sisi mata uang atau sering disebut a necessary evil (Jackson, 1989), yang walaupun dalam banyak hal sering menimbulkan masalah (a part of problem), akan tetapi menjadi institusi modern yang sulit ditolak keberadaannya, karena tidak sedikit contoh yang memperlihatkan bahwa birokrasi adalah juga solusi (a part of solution) (Weiss, 1995: 6). Kedua, walaupun sulit mempertahankan sosok birokrasi jaman sekarang ini, namun jauh lebih sulit lagi meninggalkan masyarakat modern tanpa birokrasi. Ketiga, birokrasi bukanlah sekedar perangkat instrumental tetapi merupakan bangun institusional yang melekat dalam masyarakat modern (Caiden, 1982). Secara sederhana reformasi dapat dipahami sebagai perubahan menuju tatanan yang lebih baik. Hanya perubahan sistematis dan terencana (systematic and planned change) yang di arahkan untuk melakukan transformasi secara mendasar dengan outcomes yang lebih baiklah yang dapat disebut sebagai reformasi (Cooper, 1998). Mengingat reformasi lebih merupakan persoalan politik ketimbang persoalan teknis, maka minimal ada 3 kondisionalitas yang harus dipenuhi, yaitu (1) politically desirable; (2) politically feasible; dan (3) politically credible. Walaupun sudah banyak inisiatif yang diarahkan untuk melakukan reformasi, fakta empiris menunjukkan hasilnya tidak selamanya menggembirakan. Untuk konteks Indonesia, reformasi birokrasi nampaknya tidak lebih dari sekedar 'a passing fad'. Tema tersebut pernah menjadi begitu sentral, dikonsumsi oleh hampir semua kalangan, disuarakan di berbagai fora, dijadikan lahan mobilisasi dukungan massa dan agenda politik, dan akhirnya hilang tak berbekas.

KATA KUNCI: Passing fad, reinventing government, systematic and planned change, reforms context and content


ABSTRACT

As invention of the ideas of Reinventing Government by David Osborne and Ted Gaebler (1992), the enforcement of immediate implementation of the bureaucracy reform has been coerced to all countries both develop and developing countries. The basic question for this phenomenon is how relevant this bureaucracy reform to be done? The relevancy will consist of: firstly, bureaucracy can be assumed as two sides of coin or what Jackson (1989) called a necessary evil that often induces problems (a part of problem), meanwhile the bureaucracy becomes modern institution, which the existence hard to be rejected, but several cases showed that bureaucracy is a part of solution (Weiss, 1995: 6). Secondly, eventhough it is hard to maintain the form of current bureaucracy but it will be harder to left the modern society without bureaucracy. Thirdly¸ bureaucracy is not only the instrumental tools but also institutional form which attached in modern society(Caiden, 1982). Reform is simply defined as transformation for the better order. As Cooper (1998) said that reform is a systematic and planned change is directed to do basic transformation in order to have better outcomes. Consider that reform is a political issues than technical issues, then there are three minimum necessary conditions, such as (1) politically desirable; (2) politically feasible; and (3) politically credible. Furthermore, there were many initiatives for the reform but empirical fact showed that the result is not always good. For Indonesia context, bureaucracy reform wull be not more than ‘a passing fad’. The themes have been central themes that are consumed by all parties, communicated in many forums, being issue to mobilize mass support and political agenda, and finally
disappeared without trace.

KEYWORDS: Passing fad, reinventing government, systematic and planned change, reforms context and content



***


Home  | Contact  |  Sitemap


© 2008 Lembaga Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia